MASA DEWASA TENGAH
I. Perubahan Fisik Dan Kognitif
1. Perubahan Fisik
a. Perubahan fisik. Baik pria maupun wanita sama-sama mengalami perubahan fisik: Wajah mengkerut, ubanan, pinggang mengembang, perut membesar, otot paha terasa sakit, tekanan darah tinggi, tenaga berkurang, penglihatan dan pendengaran berkurang.
b. Perubahan psikologis. Bagi seorang pria yang memasuki fase ini mengalami ketidakstabilan emosi. Kadang gembira, bersemangat, kadang murung, tidak mau diajak bicara, keadaan diseputarnya seakan tawar, sehingga mereka mengeluh dalam banyak hal, masalah anak, pekerjaan, dll. Bagi seorang wanita tengah baya sering mengalami kecemasan dan ketakutan kehilangan suaminya, kesepian dan kadang-kadang kemarahan. Keduanya bisa mengalami depresi, bagi wanita yang tidak siap akan mengalami depresi yang berat ketika memasuki masa menopause. Paling berat bagi mereka yang tidak menikah atau ibu janda yang rentan.
c. Perubahan penampilan. Bagi seorang wanita tengah baya, panampilan merupakan nomor satu penyebab krisis. Bagi seorang pria, panampilan berada pada urutan bagian akhir. Usia dan karir yang lebih menentukan harga diri seorang pria.
d. Perubahan perilaku. Bagi pria: mulai bertanya-tanya mengapa saya bekerja, apa yang sudah saya kerjakan, bagaimana saya dapat menata pekerjaan supaya pekerjaanku lebih berarti? Dan bagi wanita: ingin belajar ulang, lebih sering mengikuti seminar-seminar, ingin meningkatkan aspirasi karirnya.
e. Perubahan hubungan dalam keluarga. Pria tengah baya mulai memikirkan hubungan yang telah hilang selama mengejar karir, kini saatnya ia mulai memikirkan anak-anak. Sedangkan bagi wanita ini saatnya untuk menyibukkan dirinya di luar rumah. Sekian tahun telah membesarkan anak-anak, sekarang ia siap menghadapi tantangan baru di luar rumah. Masalah keintiman: Pria ingin agar isterinya berperilaku sebagai seorang pacar yang mesra bukan hanya pengelola rumah tangga. Bagi wanita ketegasannya sebagai bukti kemesraan. Dan apabila isteri sibuk di luar rumah sepanjang hari, maka bila malam tiba sudah kecapean dan suami terabaikan.
f. Perubahan aspek rohani. Pria tengah baya merasa mapan rohaninya, itulah sebabnya ia igin terlibat dengan berbagai kegiatan rohani. Apabila ia tidak diterima ia akan marah atau merasa tidak dihargai. Sedangkan wanita usia ini merasa sedang mengalami kekosongan rohani. Ia butuh seseorang yang dapat mendengarkannya dengan empati.
2. Perubahan Kognitif
Demensia (dementia) merupakan sindrom yang ditandai oleh pelbagai gangguan fungsi kognitif tanpa adanya gangguan kesadaran. Gangguan kognitif berupa inteligensi, memori, bahasa, problem solving, orientasi, persepsi, perhatian dan konsentrasi, adaptasi dan kemampuan bersosialisasi. Gangguan ini sifatnya progresif, artinya kerusakan yang terjadi sifatnya lamban namun semakin lama gangguan semakin meluas.
Faktor Penyebab
Faktor penyebab demensia yang paling sering disebabkan oleh penyakit Alzheimer dan vaskular (kehilangan fungsi otak yang diakibatkan oleh serangan stroke). Kedua penyakit itu kadang sering timbul secara bersamaan. Beberapa penyakit lainnya seperti; penyakit Pick, Creutzfeldt-Jacob, Huntington, Parkinson, HIV dan trauma kepala.
Demensia dengan Lewy (DLB; Dementia with Lewy bodies) merupakan demensia yang muncul pada orang tua, suatu kondisi penumpukan protein secara tidak normal di otak. Gejala DLB mirip sekali dengan simtom yang ada pada Alzheimer, namun kedua penyakit ini berbeda. Sampai saat ini belum ada obat untuk menyembuhkan kedua penyakit ini
Beberapa kondisi lainnya yang dapat memunculkan demensia;
• Kerusakan pembuluh darah atau susunan syaraf otak
• Hydrocephalus
• Tumor otak
• Kondisi tiroid
• Kekurangan vitamin B12
• Infeksi
Demensia didiagnosis bila pasien memiliki minimal 2 atau lebih gangguan fungsi otak seperti gangguan dalam memori, bahasa, persepsi, emosi dan kemampuan kognitif (seperti berhitung, berpikir abstrak atau penilaian). Biasanya gejala yang sering diketahui lebih awal dimana pasien cepat lupa atau lupa samasekali. Beberapa gangguan lainnya hanya tampak bila melalui serangkaian test kognitif. Semakin bertambah usia seseorang maka semakin besar kemungkinan resiko terkena demensia.
Gejala-gejala demensia;
1) Penurunan kemampuan memori secara bertahap
2) Ketidakmampuan untuk berkonsetrasi
3) Penurunan kemampuan penyelesaian masalah dan penilaian
4) Sering bingung sendiri
5) Halusinasi dan delusi
6) Perubahan pada sensasi dan persepsi
7) Penurunan pada kemampuan untuk mengenal nama-nama (agnosia);
• Penurunan kemampuan untuk mengenal nama orang atau benda
• Penurunan kemampuan untuk mengenal perasaan
8) Perubahan pola tidur
• insomnia
• selalu ingin tidur
• perubahan jam tidur
9) Kerusakan sistem motorik
• Kerusakan skill motorik (apraxia)
• Ketidakmampuan untuk membuat bentuk-bentuk geometri
• Ketidakmampuan menggunakan tangan
• Ketidakmampuan untuk memakai baju sendiri
• Tidak mampu berjalan cepat
• Ketidakmampuan untuk berjalan atau berpindah tempat
• Kerusakan sistem motorik lainnya
10) Disorientasi
• disorientasi orang, tempat dan wakatu
• disorientasi visual-spasial (ruang)
• Ketidakmampuan untuk menginterpretasikan dari petunjuk yang ada
disekitarnya
11) Permasalahan dalam belajar dan pemecahan masalah
• Gangguan umum
• Ketidakmampuan berpikir secara abstrak
• Ketidakmampuan untuk berhitung
• Ketidakmampuan untuk belajar
12) Penurunan daya ingat
• Problem memori jangka pendek (tidak mampu mengingat hal-hal baru)
• Problem memori jangka panjang (tidak mampu mengingat masa lalu)
13) Penurunan kemampuan penggunaan bahasa
• Kerancuan dalam berbicara
• Ketidakmampuan membaca
• Ketidakmampuan untuk menulis
• Kesulitan dalam berbicara
• Kesulitan dalam penggunaan kata-kata
• Kesulitan dalam nama-nama benda
• Kesulitan dalam pengucapan
• Dalam berbicara sering melakukan kesalahan atau kata-kata yang salah
• Ketidakmampuan untuk mengulangi kalimat atau perkataan orang lain
• Pengulangan kata-kata yang sama
• Penurunan kemampuan dalam penggunaan bahasa lain
14) Perubahan kepribadian
• Mudah jengkel
• Ketidakmampuan untuk mengontrol temperamen
• Depresi
• Ragu-ragu
• Fokus dalam dirinya
• Tidak fleksibel
• Menarik dirinya dari hubungan social
• Penurunan kemampuan terhadap fungsi social
• Ketidakmampuan dalam menyelesaikan pekerjaannya
• Perubahan mood dan perilaku tidak pantas
• Ketidakmampuan mengenal perasaan-perasaan
• Penurunan ketertarikan pada aktivitas sehari-hari
15) Hilangnya spontanitas
II. Teori-Teori Mengenai Proses Menjadi Tua
1. Teory Radical Bebas (Free Radical Theory)Inilah salah satu teori penuaan yang paling diyakini oleh para ilmuwan yaitu yang diakibatkan oleh radikal bebas. Sel-sel dalam tubuh dirusak oleh serangan yang terus menerus dari partikel kimia oksigen radikal bebas. Akibatnya sel-sel menjadi rusak sehingga jaringan pembentuk organ pun menjadi rusak, dan dari situlah bermunculan bermacam macam penyakit, akibat kemunduran fungsi organ yang kita kenal dengan penyakit Degeneratif. Apakah radikal bebas itu? Yaitu Molekul Oksigen yang memiliki 1 (satu) atau lebih elektron, yang tidak berpasangan, sehingga sangat radikal dan reaktif. Adapun sumber radikal bebas dari faktor Internal atau bersumber dari dalam diri kita sendiri antara lain: Stress, depresi, demas, radang dan luka, lelah berlebihan kerja dan olah raga yang berlebihan dan juga metabolisme normal dalam tubuh. Sedangkan faktor external radikal bebas antara lain: Polusi baik dari asap pabrik atau rokok yang kita hirup, juga dari obat-obatan, kemoterapi, pestisida, insextisida, herbisida, makanan, Sinar-X atau rontgen, bakteri, virus dll. Akibat serangan dari radikal bebas ini menyebabkaan berbagai penyakit antara lain: Diabetes, stroke, gagal ginjal, rematik, kanker, sakit jantung, problema kulit, Dan masih begitu banyak yang lainya.
2. Teori Pakai dan Rusak (Wear and Tear Theory.)Menurut teori ini tubuh dan sel-selnya akan rusak karena banyak terpakai dan digunakan secara terus menerus dan berlebihan sepanjang hidup akan mengakibatkan tubuh menjadi lemah dan akan mengalami kerusakan dan akhirnya meninggal. Organ tubuh antara lain hati, ginjal, lambung, kulit akan menurun fungsinya karena toxin di dalam makanan dan lingkungan kita yang kita hadapi tiap hari. Lebih lanjut akibat dari konsumsi lemak, gula, kafein, nikotin, alkohol yang berlebihan, sengatan langsung sinar matahari serta stress fisik dan psikis juga sangat berpengaruh kepada penuaan. Yang harus diingat adalah berbagai kerusakan ini tidak terbatas pada organ tubuh, namun kerusakan itu juga terjadi pada tingkat sel. Teori ini dikemukakan dr. August Weismann.
3. Teori Neuroendokrin.Vladimir Dilman, Ph.D. menjelaskan teori “Kerusakan Akibat Pemakaian” dengan berfokus pada sistem neuroendokrin, jaringan biokimia rumit yang mengatur pelepasan hormon dan elemen-elemen vital tubuh lainnya. Ketika muda, hormon–hormon kita bekerja bersama-sama untuk mengatur berbagai fungsi-fungsi tubuh, termasuk respon kita terhadap panas, dingin dan aktifitas seksual kita. Kelenjar sebesar kacang kenari ini terletak dalam otak dan bertanggung jawab untuk reaksi berantai hormonal kompleks yang dikenal dengan nama lain “thermostat tubuh”. Hormon penting fungsinya untuk memperbaiki dan mengatur fungsi-fungsi tubuh. Sejalan dengan bertambahnya usia, tubuh memproduksi hormon-hormon dalam kadar yang lebih rendah dan dapat menyebabkan efek berbahaya, termasuk penurunan kemampuannya dalam memperbaiki tubuh dan mengatur tubuh. Produksi hormon sangat interaktif, produksi satu tetes hormon apapun akan mempengaruhi mekanisme secara keseluruhan, contohnya; menyampaikan sinyal pada organ-organ lain untuk melepaskan hormon lainnya dalam kadar yang lebih rendah sehingga bagian-bagian tubuh lainnya juga akan mengeluarkan hormon dalam kadar yang lebih rendah.
4. Teori Control GeneticTeori penuaan-terencana berpusat pada program genetik sesuai DNA kita. Kita dilahirkan dengan kode genetik yang unik, sebuah kecendrungan tipe fisik dan fungsi mental yang telah ditentukan sebelumnya. Warisan genetik tersebut sangat menentukan seberapa cepat dan seberapa panjang kita hidup. Jika menggunakan gambaran kasar, dapat dibayangkan setiap manusia hadir di muka bumi bagaikan sebuah mesin yang sudah terprogram untuk menghancurkan dirinya sendiri. Semua orang memiliki jam biologis yang terus berdetak dan bisa berhenti kapan saja, lebih cepat atau lebih lama beberapa tahun. Ketika jam berhenti berdetak, itu merupakan pertanda bahwa tubuh kita mulai menua dan akhirnya akan mati. Namun, sesuai dengan segala aspek warisan genetik kita, waktu yang berlaku pada jam genetik ini bervariasi, tergantung apa yang kita alami selama pertumbuhan dan bagaimana
III. Perkembangan Sosio-Emosi
Usia dewasa tengah membawa perubahan minat dalam kehidupan social. Sebagai pasangan yang tanggung jawab keluarganya berkurang dan status ekonomi mereka meningkat, mereka lebih banyak terlibat dengan kegiatan social dibanding semasa mudanya. Banyak orang pada masa ini terutama kaum wanita, menyadari bahwa kegiatan social dapat menghilangkan kesepian karena anak-anaknya sudah dewasa dan mulai berkeluarga. Selama usia madya, orang senang kegiatn menjamu teman, dalam bentuk acara makan malam, pesta-pesta dan pada umumnya kehidupan social mereka senang berkumpul dengan jenis kelamin yang sama. Kegiatan seperti ini mencapai puncaknya pada waktu mereka berusia enam puluhan. Kemudian seseorang mulai memasuki masa pensiun, dengan berkurangnya dalam masyarakat mulai berkurang. Akibatnya pria dan wanita yang berusia sekitar
Kegiatan social juga dipengaruhi oleh jenis kelamin; seperti kaum pria pada umumnya mempunyai lebih banyak teman dan kerabat daripada wanita, namun wanita mempunyai hubungan yang lebih dekat dengan teman-temannya daripada pria. Kebanyakan pria menjadi anggota lebih dari satu organisasi, sedangkan wanita lebih banyak mencurahkan tenaga dan waktunya dalam kegiatan organisasi dimana dia terdaftar sebagai anggotanya dibanding pria. Wanita lebih banyak kontak social dengan anggota keluarga dan saudaranya daripada dengan orang luar dibandingkan. Penyusuaian social pada tahap usia ditentukan oleh dua factor. Pertama adalah sejauh mana seseorang dapat memainkan peran social secara tepat sesuai dengan apa yang diharapkan daripadanya. Kedua adalah seberapa banyak kepuasan yang diperoleh seseorang.
Kondisi umum yang menghambat presos penyusuaian diri dengan social.
· Penampilan tidak menarik
Pada usia ini baik perempuan maupun pria yang pasrah terhadap penampilannya yang semakin memburuk , dan mereka tidak berusaha untuk memperbaikinya, akan semakin diabaikan atau ditolak oleh situasi social tertentu dibandingkan dengan mereka yang mau berusaha dengan melakukan penyusuaian dandanan dan pakiannya.
· Kurang memiliki keterampilan social, orang yang tidak pernah belajar tentang keterampilan social dengan teman sebayanya selama ia masih muda, akan merasa menderita dalam suasana social yang tenteram dan menarik diri atau akan melakukan peran yang tidak diinginkan.
· Kecenderungan untuk lebih suka berkontak dengan keluarga, pada usia ini baik pria maupun wanita yang menganggap anggota keluarganya lebih menyenangkan daripada orang luar dan kegiatan yang didalamnya lebih menyenangkan daripada yang dilakukan oleh masyrakat, akan tidak termotivasi untuk memperluas horizon sosialnya dengan melibatkan orang luar dan kegiatan masyarakat.
· Masalah keuangan
· Tekanan karena keluarga
· Popularitas yang diinginkan, beberapa orang baik pria maupun wanita yang berusia madya terutama mereka yang dulu kawin muda yang telah memperoleh pengalaman baik yang bersifat tempores sebelum menikah, sekarang ingin terlibat aktif dalam kegiatan social sebagai bukti popularitasnya. Hal ini dapat menimbulkan bahaya apabila dalam usahanya untuk mencapai tujuan tersebut ia mencoba menerobos pola hidup yang telah mapan, untuk mencari susuatu yang menarik dan melakukan petualangan diluar rumah, dengan melalaikan tugas-tugasnya.
· Mobiltas social, mobilitas social sesorang sering terasa sulit apabila ia tidak mungkin untuk mendekatkn dan masuk ke dalam jaringan kerja social secara aktif yang selama ini sudah dilakukan oleh para tetangga atau kelompok sebayanya. Oleh karena itu, ia terpaksa harus terasing kalau ia tidak bisa berafiliasi dengan kelompok yang mau menerimanya.
IV. Seksualitas Pada Masa Tengah Baya
Pada masa tengah baya, sebagian besar wanita akan mengalami menopause, yaitu periode kehidupan pada wanita dengan berhentinya menstruasi. Pada masa ini wanita mengalami penurunan kadar hormon estrogen yang menyebabkan terganggunya beberapa fungsi seksual. Oleh karena itu minat untuk melakukan hubungan intim menurun dengan drastis, karena mereka tidak lagi merasakan rangsangan yang diberikan oleh pasangannya.
Penurunan kadar estrogen juga akan menyebabkan terjadinya penurunan suplai darah ke vagina sehingga produksi lendir vagina menjadi menurun. Keadaan ini akan membuat vagina menjadi kering dan timbul rasa sakit saat berhubungan intim. Selain masalah libido, pada masa menopause, seorang wanita akan mengalami pula hal hal berikut :
- Gangguan perkemihan
- Gangguan tidur.
- Depresi dan Kecemasan, karena krisis-krisis yang dialami.
- Stress.
- Masalah obat obatan.
- Masalah kesehatan lainnya.
Apakah semua wanita menopause akan mengalami penurunan gairah seksual?
Tidak. Faktanya ada beberapa wanita yang telah menopause justru gairah seksualnya meningkat. Kemungkinan hal ini disebabkan oleh karena adanya penurunan perasaan takut untuk hamil. Saat menopause, seorang wanita juga akan terbebas dari tanggung jawab ngemong anak sehingga mereka menjadi lebih santai untuk berintim ria dengan pasangannya.
Penyebab menopause ?
Menopause terjadi sejalan dengan pertambahan usia, ovarium menjadi kurang tanggap terhadap rangsangan oleh LH dan FSH, yang dihasilkan oleh kelenjar hipofisa. Akibatnya ovarium melepaskan lebih sedikit estrogen dan progesteron dan pada akhirnya proses ovulasi (pelepasan sel telur) berhenti.
1. Menopause dini adalah menopause yang terjadi sebelum usia 40 tahun.
Kemungkinan penyebabnya adalah faktor keturunan, penyakit autoimun dan rokok.
2. Menopause buatan terjadi akibat campur tangan medis yang menyebabkan berkurangnya atau berhentinya pelepasan hormon oleh ovarium. Campur tangan ini bisa berupa pembedahan untuk mengangkat ovarium atau untuk mengurangi aliran darah ke ovarium serta kemoterapi atau terapi penyinaran pada panggul untuk mengobati kanker. Histerektomi (pengangkatan rahim) menyebabkan berakhirnya siklus menstruasi, tetapi selama ovarium tetap ada hal tersebut tidak akan mempengaruhi kadar hormon dan tidak menyebabkan menopause. Sedangkan Pada laki-laki usia tengah baya akan mengalami andropause. Istilah andropause berasal dari kata Yunani, andro berarti pria, pause berarti penghentian atau stop. Arti harfiahnya adalah bahwa fungsi fisiologis sebagai pria telah “berhenti”. Andropause disebut juga Viropause, PADAM (Partial Androgen Deficiency in Aging Male), PTDAM (Partial Testosterone Deficiency in Aging Male). Andropause atau sindrom yaitu kondisi kekurangan testosteron (testosteron deficiency sindrom) adalah suatu istilah yang paling sering untuk menggambarkan kondisi pria di atas usia tengah baya, yang mempunyai kumpulan gejala, tanda, dan keluhan mirip dengan menopause pada wanita. Mekanisme yang mendasari terjadinya andropause adalah karena menurunnya fungsi dan sistem reproduksi pria, yang selanjutnya menyebabkan penurunan kadar testosteron sampai dengan di bawah angka “normal” fisiologis (hypogonadism).Pada berbagai kepustakaan, andropause umumnya dimulai pada umur 40-60 tahun, ada yang mengatakan mulai umur 55 tahun. Bahkan beberapa kurang lebih 5% pria berumur 30 tahun-an sudah memasuki masa andropause.
Apa Penyebabnya
1. Pola hidup yang kurang baik, seperti : kurang olahraga, mengkonsumsi alkohol,
merokok, dan makanan yang kurang sehat.
2. Lingkungan : faktor lingkungan dapat bersifat fisik misalnya bahan kimia,
umumnya dipakai dalam bidang pertanian, pabrik, dan rumah tangga. Faktor
lingkungan yang bersifat psikis antara lain kebisingan dan perasaan tidak aman.
3. Faktor organik (perubahan hormonal) : disebabkan penyakit, antara lain diabetes
melitus dengan gangguan angiopati dan hiperinsulin, obesitas, dll.
Apa Gejalanya
Kumpulan gejala, tanda, dan keluhan andropause mirip dengan wanita menopause yaitu gejolak panas, berkeringat, insomnia, rasa gelisah, takut, mudah lelah, menurunnya motivasi, berkurangnya ketajaman mental, keluhan depresi, hilangnya rasa percaya diri dan menghargai diri sendiri, menurunnya kekuatan dan massa otot, kehilangan rambut tubuh, penumpukan lemak pada daerah abdominal dan osteoporosis, menurunnya gairah seksual, perubahan tingkah laku dan aktifitas seksual, kualitas orgasme menurun, berkurangnya kemampuan ereksi, berkurangnya kemampuan ejakulasi dan menurunnya volume semen.
Dengan fenomena diatas dapat dilihat bahwa perilaku seksual pada masa dewasa tengah biasanya terjadi pada frekwansi yang seringkali kurang daripada masa dewasa awal. Meskipun, demikian sebagian orang dewasa pada usia tengah baya menampakkan suatu ketertarikan yang sedang atau kuat dalam seks.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar